Bayi adalah tahap manusia ketika sama sekali masih belum mengerti beda antara keinginan dengan kebutuhan. Bayi ditemani staf-stafnya Tuhan untuk menunjukkan kepada Ibunya apa yang ia butuhkan, tapi si bayi itu sendiri tidak mengerti bahwa itu kebutuhan.
Kasdu dulu mendengar Markesot pernah nyeletuk, “Sekarang ini sampai dewasa manusia tidak belajar membedakan antara keinginan dengan kebutuhan. Rancangan pembangunan, kreasi kebudayaan dan teknologi, hampir seluruh sisi peradaban ummat manusia di abad ini, menunjukkan sangat jelas ketidakmengertian pelaku-pelakunya bahwa yang mereka bangun dengan gegap-gempita itu bukan kebutuhan, melainkan keinginan.”
“Yang berlangsung sekarang ini adalah peradaban bayi-bayi. Bayi tidak bisa disalahkan, meskipun ia membanting gelas, melempar Ibunya dengan piring, atau bahkan membakar rumah. Bayi tidak percaya, atau tepatnya, belum paham, ketika dikasih tahu bahwa yang ia lakukan adalah perusakan dan penghancuran”.
“Saya sudah bersumpah kepada diri saya sendiri”, kata Markesot, “tidak akan ngasih tahu apa-apa kepada bayi. Bayi memimpin masyarakat, menjadi kepala negara, menyusun pasal hukum, mendaftari para calon penghuni neraka, menjadi pemegang urusan hal-hal yang ia muati dengan keinginan dan nafsunya. Tidak. Saya tidak akan senggol mereka. Kecuali hal itu menjadi bagian dari tagihan Tuhan kepada saya kelak di akhirat, saya tidak akan sentuh. Dan apakah itu tagihan atau bukan, saya tidak punya pengetahuan kecuali Tuhan menginformasikannya kepada saya”.
Kasdu dulu mendengar Markesot pernah nyeletuk, “Sekarang ini sampai dewasa manusia tidak belajar membedakan antara keinginan dengan kebutuhan. Rancangan pembangunan, kreasi kebudayaan dan teknologi, hampir seluruh sisi peradaban ummat manusia di abad ini, menunjukkan sangat jelas ketidakmengertian pelaku-pelakunya bahwa yang mereka bangun dengan gegap-gempita itu bukan kebutuhan, melainkan keinginan.”
“Yang berlangsung sekarang ini adalah peradaban bayi-bayi. Bayi tidak bisa disalahkan, meskipun ia membanting gelas, melempar Ibunya dengan piring, atau bahkan membakar rumah. Bayi tidak percaya, atau tepatnya, belum paham, ketika dikasih tahu bahwa yang ia lakukan adalah perusakan dan penghancuran”.
“Saya sudah bersumpah kepada diri saya sendiri”, kata Markesot, “tidak akan ngasih tahu apa-apa kepada bayi. Bayi memimpin masyarakat, menjadi kepala negara, menyusun pasal hukum, mendaftari para calon penghuni neraka, menjadi pemegang urusan hal-hal yang ia muati dengan keinginan dan nafsunya. Tidak. Saya tidak akan senggol mereka. Kecuali hal itu menjadi bagian dari tagihan Tuhan kepada saya kelak di akhirat, saya tidak akan sentuh. Dan apakah itu tagihan atau bukan, saya tidak punya pengetahuan kecuali Tuhan menginformasikannya kepada saya”.